Jumat, 30 November 2012

Gizi Seimbang Pada Balita


BAB I
PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang
Masa balita adalah periode perkembangan fisik dan mental yang pesat. Pada masa ini otak balita ibu telah siap menghadapi berbagai stimuli seperti belajar berjalan dan berbicara dengan lancar.
Masa balita juga merupakan kelompok yang menunjukkan pertumbuhan badan yang pesat, sehingga memerlukan zat-zat gizi yang tinggi setiap Kg berta badannya. Anak balita ini justru merupakan kelompok umur paling sering menderita akibat kekurangan gizi (KKP).
Di Indonesia anak kelompok balita menunjukkan prevalensi paling tinggi untuk penyakit KKP dan defisiensi Vit. A serta anemia defisiensi Fe. Kelompok umur ini sulit dijangkau oleh berbagai upaya kegiatan perbaikan gizi dan kesehatan lainnya, karena tidak dapat datang sendiri ke tempat berkumpul yang ditentukan tanpa diantar, padahal yang mengantar sedang libur semua.

B.     Rumusan Masalah
         Berdasarkan \Latar belakang diatas maka rumusan masalah yang dapat diambil adalah:
1.Apa saja prinsip seimbang pada balita?
2.Bagaimana cara pengelolaan bahan makanan pada balita?
3.Apa saja faktor-faktor yang mempengarui pemberian makanan pada balitan?
4.Kondisi dan anggapan orang tua yang bagaimana yang merugikan balita?
5.Pengaruh gizi apa saja yang mempengarui pertumbuhan dan perkembangan seorang
    Balita?
6.Menu apa saja yang seimbang bagi balita?
7.Makanan yang harus dihindari bagi balita? 




D.Metode penelitian
          Penulis menggunakan metode studi pustaka pada makalah yaitu dengan cara membaca buku-buku dan mencari informasi dari media lain yang berkaitan gengan masalah yang kami bahas dalam makalah ini.

F.Sistematika
         Karya tulis ini terdiri dari tiga Bab I Pendahuluan,Bab II Isi,dan Bab III Penutup.
        Bagian awal makalah ini adalah Bab I Pendahuluan.Bab ini memberi petunjuk arah pembicaraan yang meliputi Latar Belakang ,Rumusan Masalah,Tujuan,Metode Penelitian,Sistemati












BAB II
ISI

A.    Prinsip Gizi Seimbang Pada Balita
Masa balita adalah periode perkembangan fisik dan mental yang pesat. Pada masa ini otak balita ibu telah siap menghadapi berbagai stimuli seperti belajar berjalan dan berbicara lebih lancar.
Perlunya perhatian lebih dalam tumbuh kembang di usia balita didasarkan fakta bahwa kurang gizi yang terjadi pada masa emas ini, bersifat irreversible (tidak dapat pulih).
Ada usia balita juga membutuhkan gizi seimbang yaitu makanan yang mengandung zat-zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh sesuai umur. Makanan seimbang pada usia ini perlu diterapkan karena akan mempengaruhi kualitas pada usia dewasa sampai lanjut.

B.     Pengolahan Bahan Makanan
Pemberian makanan balita sebaiknya beraneka ragam, menggunakan makanan yang telah dikenalkan sejak bayi usia enam bulan yang telah diterima oleh bayi, dan dikembangkan lagi dengan bahan makanan sesuai makanan keluarga.
Pemberntukan pola makanan perlu diterapkan sesuai pola makanan keluarga. Peranan orang tua sangat dibutuhkan untuk membentuk perilaku makan yang sehat. Seorang ibu dalam hal ini harus mengetahui, mau dan mampu menerapkan makan yang seimbang atau sehat dalam keluarga karena anak akan meniru perilaku makan dari orang tua dan orang-orang disekelilingnya dalam keluarga.
Makanan selingan tidak kalah pentingnya dengan apa yang diberikan pada jam diantara makanan pokoknya. Makanan selingan dapat membantu jika anak tidak cukup menerima porsi makan karena anak susah makan. Namun pemberian yang berlebihan pada makanan selingan pun tidak baik karena akan mengganggu nafsu makannya.
Jenis makanan selingan yang baik adalah yang mengandung zat gizi lengkap yaitu sumber karbohidrat, protein, vitamin dan mineral, seperti arem-arem nasi isi daging sayuran, tahu isi daging sayuran, roti isi ragout ayam sayuran, pizza dan lain-lain.
Fungsi makanan selingan adalah :
1.      Memperkenalkan aneka jenis bahan makanan yang terdapat dalam bahan makanan selingan.
2.      Melengkapi zat-zat gizi yang mungkin kurang dalam makanan utamanya (pagi, siang, dan malam).
3.      Mengisi kekurangan kalori akibat banyaknya aktifitas anak pada usia balita.
Ciri-ciri gizi buruk :
1.      Kurus, rambut kemerahan
2.      Perut kadang-kadang buncit
3.      Wajah konfase (cekung) untuk monkey fase (keriput)
4.      Cengeng
5.      Kurang respons

C.     Faktor – faktor Yang Mempengaruhi Pemberian Makanan
1.      Pengaruh ibu                                      :  Kurangnya   pengetahuan   ibu    dan
                                        keterampilan yang mempengaruhi gizi di bidang memasak, konsumsi anak, keragaman bahan makanan.
2.      Prasangka buruk                                 :  Anggapan   terhadap  jenis  makanan 
                                                               tertentu yang bisa mempengaruhi gizi, misalnya anggapan terhadap anak kecil yang suka makan ikan bisa menyebabkan cacingan.


3.      Pantangan                                          :  Pantangan terhadap makanan  tertentu
yang telah menjadi kebiasaan yang mempengaruhi gizi, misal pantangan terhadap anak yang suka makan daging yang biasanya yang terjadi di daerah pedesaan.
4.      Kesukaan yang berlebihan                 :  Kesukaan yang berlebihan terhadap
                                                              suatu jenis makanan tertentu yang mengakibatkan tubuh tidak memperoleh semua zat gizi yang diperlukan. Misal kesukaan yang berlebihan terhadap coklat.
5.      Jarak kelahiran yang terlalu cepat      :  Jarak   antara   dua    kelahiran   yang
                                                              terlalu   rapat   yaitu   kurang   dari   1
                                                              tahun.
6.      Sosial ekonomi                                   :  Tingkat  penghasilan   keluarga  yang
                                                              mempengaruhi status gizi kurang pada balita yang dihubungkan dengan jumlah anggota keluarga.
7.      Penyakit pada anak                            :  Penyakit   yang   diderita   pada  anak
                                                              yang menyebabkan terganggunya status gizi balita.

D.    Beberapa Kondisi dan Anggapan Orang Tua Yang Merugikan Balita
1.      Anak BALITA masih dalam periode transisi dari makanan begi ke makanan orang dewasa, jadi masih memerlukan adaptasi.
2.      Anak BALITA dianggap kelompok umur yang peling belum berguna bagi keluarga, karena belum sanggup ikut membantu menambah kebutuhan keluarga, baik tenaga maupun kesanggupan kerja penambah keuangan. Anak itu sudak tidak begitu diperhatikan dan pengurusannya sering diserhkan kepada saudaranya yang lebih tua, tetapi sering belum cukup umur untuk mempunyai pengalaman dan keterampilan untuk mengurus anak dengan baik.
3.      Ibu sering sudah mempunyai anak kecil lagi atau sudah bekerja penuh, sehingga tidak lagi dapat memberikan perhatian kepada anak BALITA, apalagi mengurusnya.
4.      Anak BALITA masih belum dapat mengurus diri sendiri dengan baik, dan belum dapat berusaha mendapatkan sendiri apa yang diperlukannya untuk makanannya. Kalau makan bersama dalam keluarga, anak BALITA masih diberi jatah makanannya dan kalaupun tiadk mencukupi, sering tidak diberi kesempatan untuk minta lagi atau mengambil sendiri tambahannya.
5.      Anak BALITA mulai turun ke tanah dan berkenalan dengan berbagai kondisi yang memberikan infeksi lain, padahal tubuhnya belum cukup mempunyai immunitas atau daya tahan unttuk melawan penyakit atau menghindarkan kondisi lain yang memberikan bahaya kepada diriya.

E.      Pengaruh Gizi Terhadap Pertumbuhan dan Perkembangan
Kesehatan seorang balita sangat dipengaruhi oleh gizi yang terserap didalam tubuh. Kurangnya gizi yang diserap oleh tubuh mengakibatkan mudah tersrang penyakit, karena gizi memberi pengaruh yang besar terhadap kekebalan tubuh.
Beberapa penyakit yang timbul akibat kurangnya gizi antar lain diare, disentri, gondok, busung lapar. Defisiensi Kurang Kalori Protein (KKP), Defisiensi Vit. A, Defisiensi Yodium, Anemia, Marasmus, Kwashiorkor dan beberapa penyakit lainnya.
Gizi bukan hanya mempengaruhi kesehatan tubuh, tetapi dapat juga mempengaruhi kecerdasan. Apabila gizi yang diperlukan oleh otak tidak terpenuhi, otak akan mengalami pengaruh sehingga tidak dapat berkembang secara optimal, sesuai dengan potensi genetiknya.



F.     Menu Seimbang Bagi Balita
1.      Karbohidrat
Seperti nasi, roti, sereal, kentang atau mie.
2.      Buah dan  Sayur
Seerpti pisang, pepaya, jeruk, tomat, dan wortel. Jenis sayuran beragam mengandung zat gizi yang berbeda.
3.      Susu dan Produk Olahan Susu
Susu pertumbuhan, produk olahan susu seperti susu dan yoghurt. Pastikan balita ibu mendapatkan asupan kalsium yang cukup dan konsumsi susunya.
4.      Protein
Seperti ikan, susu, daging, telur, dan kacang-kacangan.
5.      Lemak dan Gula
Seperti yang terdapat dalam minyak, santan, dan mentega, roti, dan kue juga mengandung Omega 3 dan 6 yang penting untuk perkembangan otak.

G.    Makanan Yang Perlu Dihindari
1.      Makanan yang terlalu berminyak, seperti junk food dan makanan berpengawet sebaiknya dihindari.
2.      Penggunaan garam, bila memang diperlukan sebaiknya digunakan dalam jumlah sedikit. Dan pilih garam beryodium yang baik untuk kesehatan. Bila memberli makanan dalam kemasan, perhatikan juga kandungan garamnya.
3.      Aneka jajanan dipinggir jalan yang tidak terjamin kebersihan, telur, dan  kerang.
4.      Karena seringkali menimbulkan alergi bahkan keracunan bila ibu tidak jeli memilih yang segar dan salah pengolahannya. Biasakan mengolah telur sampai matang untuk menghindari bakteri yang kacang-kacangan. Karena bisa jadi pencetus alergi.
5.      Jangan berikan kacang bila si balita belum terampil mengunyah karena bisa jadi balita akan tersedak. 










BAB III
PENUTUP




A.    Kesimpulan
Masa balita adalah periode perkembangan fisik dan mental yang pesat. Pada masa ini otak balita ibu telah siap menghadapi berbagai stimuli seperti belajar berjalan dan berbicara dengan lancar. Pada usia balita juga membutuhkan gizi seimbang yaitu makanan yang dibutuhkan oleh tubuh sesuai umur. Makanan keseimbangan pada usia dini perlu diterapkan karena akan mempengaruhi kualitas pada usia dewasa sampai lanjut.

B.     Saran 
1.      Bagi para ibu agar tetap menjaga kebutuhan gizi seimbang bagi balitanya.
2.      Bagi tenaga kesehatan, agar melakukan penyuluhan kepada ibu-ibu pedesaan akan perhitungannya pemenuhan gizi seimbang pada balita.














DAFTAR PUSTAKA


Djaelani, Ahmad Sediotama. 2002. Ilmu 9121. Jakarta. Dian Rakyat Laksamana, Hendra T.  2005. Kamus Kedokteran. Jakarta : Djambatan.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar